Pendahuluan
Kalau ngomongin komputer, perhatian kita biasanya langsung lari ke hardware dan software. Ada CPU, RAM, operating system, aplikasi, server, jaringan, dan masih banyak lagi. Tapi ada satu bagian yang kadang malah terlupakan, yaitu manusia yang membuat semua teknologi itu benar-benar berguna.
Komputer yang punya spesifikasi tinggi tetap nggak akan melakukan banyak hal kalau nggak ada manusia yang menentukan mau dipakai untuk apa. Begitu juga software yang fiturnya lengkap. Kalau nggak ada yang merancang, mengembangkan, merawat, atau bahkan sekadar menggunakannya, software itu cuma jadi sekumpulan kode.
Di sinilah kita bertemu dengan istilah brainware.
Brainware mencakup semua orang yang terlibat dalam pemanfaatan teknologi komputer, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi cakupannya jauh lebih luas daripada orang yang duduk di depan komputer dan mengetik sesuatu.
Menariknya, ketika mulai melihat orang-orang di balik sebuah sistem, kita juga mulai menemukan banyak nama profesi yang mungkin terdengar mirip. Ada System Administrator, DevOps Engineer, Software Engineer, System Analyst, sampai Data Engineer.
Namanya sama-sama ada kata system, software, atau engineer, tapi apakah pekerjaannya sama?
Nggak juga.
Karena itu, daripada mencoba menghafal semuanya sekaligus, saya kembali menyusunnya menjadi glosarium. Seperti sebelumnya, istilahnya diurutkan berdasarkan abjad supaya teman-teman bisa mulai dari mana saja.
Isi
A
AI / ML Engineer
AI / ML Engineer adalah orang yang membangun model yang dapat belajar dari data, kemudian memasukkan model tersebut ke sistem yang benar-benar digunakan.
Misalnya sebuah perusahaan punya data transaksi selama beberapa tahun dan ingin memperkirakan penjualan bulan depan. Model prediksinya bisa dibangun oleh AI / ML Engineer setelah data yang dibutuhkan sudah disiapkan.
Di sini ada hal yang menarik. Membuat model ternyata bukan berarti pekerjaannya selesai.
Model tadi masih harus bisa menerima data dari sistem, memberikan hasil prediksi, dan tetap bekerja ketika digunakan. Jadi pekerjaannya berada di antara machine learning dan software system yang nyata.
B
Brainware
Brainware adalah semua orang yang terlibat dalam penggunaan dan pengelolaan teknologi komputer.
Artinya, brainware bukan cuma programmer atau teknisi.
Pegawai yang setiap hari memasukkan data termasuk brainware. System Administrator yang menjaga server termasuk brainware. Bahkan pimpinan yang tidak pernah menyentuh sistem secara langsung tetapi menggunakan laporan yang dihasilkan sistem juga tetap menjadi bagian darinya.
Kalau hardware bisa menjalankan tindakan dan software memberi tahu langkah yang harus dilakukan, manusialah yang menentukan tujuan akhirnya.
Dari sini kelihatan kalau sebuah sistem komputer sebenarnya nggak pernah benar-benar berdiri sendiri.
C
Cloud Architect
Cloud Architect merancang bagaimana sebuah sistem dijalankan menggunakan cloud platform.
Yang dipikirkan bukan cuma soal “taruh server di cloud”. Ada pertanyaan lain seperti berapa resource yang dibutuhkan, bagaimana sistem menangani pertambahan pengguna, dan bagaimana biaya infrastrukturnya tetap masuk akal.
Coba bayangkan aplikasi yang awalnya dipakai seratus orang tiba-tiba digunakan seratus ribu orang.
Sistemnya tentu nggak bisa dibiarkan dengan rancangan yang sama begitu saja. Di sinilah keputusan arsitektur mulai terasa penting.
Computer Operator
Computer Operator bertugas memantau sistem utama dan menjalankan proses operasional yang sudah ditentukan.
Pekerjaannya bisa mencakup menjalankan batch process, melakukan backup, atau memastikan pekerjaan rutin berjalan sesuai jadwal.
Sekilas pekerjaannya mungkin terdengar sederhana karena banyak prosedurnya sudah jelas. Tapi justru karena sistem berjalan terus, seseorang tetap perlu memastikan proses tersebut benar-benar selesai tanpa masalah.
Kalau sebuah backup seharusnya berjalan setiap malam lalu ternyata gagal selama seminggu, masalahnya baru terasa ketika data benar-benar dibutuhkan.
Cybersecurity Analyst
Cybersecurity Analyst menjaga sistem dari ancaman keamanan.
Mereka mengawasi kemungkinan serangan, mencari security vulnerability, menutup celah yang ditemukan, dan bertindak ketika ada indikasi seseorang berhasil masuk ke sistem.
Pekerjaan ini bukan cuma soal menunggu hacker datang.
Sebagian besar waktunya justru dipakai untuk memastikan sistem cukup kuat sebelum serangan benar-benar terjadi.
Karena ketika sebuah sistem menyimpan data penting, pertanyaannya bukan cuma “apakah sistem ini berjalan?”, tetapi juga “siapa saja yang seharusnya boleh masuk ke dalamnya?”
D
Data Analyst / Data Scientist
Data Analyst atau Data Scientist mengubah data mentah menjadi informasi yang bisa membantu manusia mengambil keputusan.
Angka transaksi yang jumlahnya jutaan mungkin terlihat seperti tumpukan data biasa. Tapi setelah dianalisis, kita bisa menemukan pola seperti produk mana yang paling sering dibeli, kapan penjualan naik, atau kelompok pelanggan mana yang paling aktif.
Data Analyst biasanya banyak bekerja untuk memahami dan menjelaskan apa yang terjadi pada data.
Dalam materi ini, Data Analyst dan Data Scientist dikelompokkan bersama karena keduanya sama-sama berusaha menghasilkan insight dan prediction dari data.
Intinya, data sendiri belum tentu memberi jawaban. Kita masih perlu seseorang untuk bertanya, “sebenarnya apa yang bisa kita pelajari dari sini?”
Data Engineer
Kalau Data Analyst membutuhkan data yang siap dianalisis, Data Engineer adalah salah satu orang yang membantu menyiapkannya.
Data Engineer membangun data pipeline yang memindahkan, menggabungkan, dan membersihkan data dari berbagai sumber supaya nantinya bisa digunakan.
Misalnya data pelanggan tersebar di aplikasi mobile, website, dan sistem transaksi.
Sebelum semuanya bisa dianalisis bersama, datanya harus dikumpulkan dan dibuat konsisten terlebih dahulu. Kalau fondasi datanya berantakan, analisis sebagus apa pun bisa ikut menghasilkan kesimpulan yang berantakan.
Database Administrator
Database Administrator atau DBA bertanggung jawab terhadap database yang digunakan organisasi.
Pekerjaannya mencakup merancang, melakukan backup, menjaga keamanan, dan memastikan database tetap bekerja dengan baik.
Bayangkan sebuah aplikasi punya jutaan data pengguna. Data tersebut bukan cuma perlu disimpan, tetapi juga harus bisa ditemukan dengan cepat ketika dibutuhkan.
DBA berurusan dengan sisi ini.
Kalau Data Engineer banyak bergerak dalam aliran data, DBA lebih dekat dengan tempat data tersebut disimpan dan dikelola.
DevOps Engineer
DevOps Engineer membantu membuat proses pengujian dan deployment software menjadi lebih otomatis.
Tujuannya supaya versi baru aplikasi bisa dirilis dengan aman dan lebih sering tanpa seluruh proses dilakukan secara manual setiap kali ada perubahan.
Misalnya programmer baru selesai membuat fitur.
Kode itu belum tentu langsung dilempar ke production. Ada proses testing, build, deployment, dan pengecekan lain yang perlu dilewati.
DevOps Engineer membantu membangun alur agar proses tersebut lebih konsisten.
Karena semakin sering software berubah, semakin sulit juga kalau setiap rilis masih bergantung pada langkah manual yang panjang.
Digital Marketing Specialist
Teknologi yang bagus nggak akan banyak berarti kalau orang yang membutuhkannya bahkan nggak tahu produk tersebut ada.
Di sinilah Digital Marketing Specialist bekerja.
Mereka membawa produk kepada audiens yang tepat melalui digital channel.
Pekerjaannya berbeda dari software development karena yang menjadi perhatian utama bukan bagaimana sistem dibangun, tetapi bagaimana produk tersebut ditemukan, dikenal, dan akhirnya digunakan oleh orang yang tepat.
E
End User
End User atau pengguna akhir adalah orang yang akhirnya menggunakan sistem yang dibuat.
Kelihatannya sederhana, tapi justru mereka menjadi salah satu bagian yang paling penting.
Kita bisa membuat aplikasi dengan architecture yang bagus, database yang cepat, server yang stabil, dan kode yang rapi. Tapi kalau orang yang seharusnya memakai aplikasi itu merasa bingung lalu memilih berhenti menggunakannya, apakah sistem tersebut benar-benar berhasil?
Itulah kenapa kebutuhan End User seharusnya nggak baru dipikirkan ketika produk sudah selesai.
Mereka adalah alasan kenapa sistem itu dibuat sejak awal.
ERP Consultant
ERP Consultant membantu menyesuaikan Enterprise Resource Planning atau ERP dengan cara kerja sebuah organisasi.
ERP sendiri biasanya digunakan untuk menghubungkan banyak proses bisnis dalam satu sistem.
Masalahnya, setiap organisasi punya alur kerja yang berbeda.
Software bisa saja menyediakan banyak fitur, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan proses yang benar-benar terjadi di perusahaan tersebut. ERP Consultant berada di antara kebutuhan bisnis dan sistem yang akan digunakan.
G
Graphic Designer
Graphic Designer membuat berbagai materi visual seperti logo, ilustrasi, dan aset publikasi.
Profesi ini kadang disamakan dengan UI/UX Designer karena keduanya sama-sama bekerja dengan visual.
Padahal fokusnya berbeda.
Graphic Designer banyak berurusan dengan komunikasi visual. UI/UX Designer lebih berfokus pada bagaimana seseorang berinteraksi dengan sebuah sistem.
Satu desain mungkin terlihat keren sebagai poster, tetapi belum tentu nyaman ketika dijadikan interface aplikasi.
H
Hardware Engineer
Hardware Engineer merancang dan menguji komponen fisik serta rangkaian elektronik.
Kalau Software Engineer banyak berurusan dengan struktur software, Hardware Engineer bekerja pada bagian fisiknya.
Perangkat yang kita gunakan sehari-hari tetap membutuhkan seseorang yang memikirkan bagaimana komponennya dirancang, dihubungkan, diuji, dan dibuat bekerja sesuai kebutuhan.
Jadi dunia TI nggak selalu berakhir di layar dan source code.
Ada bagian yang benar-benar bisa kita pegang.
I
IT Project Manager
Sebuah proyek bisa punya programmer hebat, designer bagus, dan infrastruktur yang kuat. Tapi kalau semua orang bergerak ke arah yang berbeda, proyeknya tetap bisa berantakan.
IT Project Manager menjaga scope, waktu, biaya, dan anggota tim supaya tetap bergerak menuju tujuan yang sama.
Mereka nggak harus menjadi orang yang menulis semua kode atau mendesain setiap halaman.
Justru tugas utamanya adalah memastikan banyak pekerjaan yang berbeda tadi tetap terkoordinasi.
Karena masalah proyek teknologi nggak selalu berasal dari teknologi. Kadang yang bermasalah justru komunikasi, waktu, prioritas, atau keputusan yang nggak pernah dibuat.
IT Support / Technician
IT Support atau Technician menjadi salah satu orang pertama yang dicari ketika teknologi berhenti bekerja seperti seharusnya.
Laptop nggak bisa tersambung ke jaringan, software error, printer mendadak nggak terdeteksi, atau perangkat lain mengalami masalah.
Mereka membantu mencari penyebab dan membuat perangkat tersebut bisa digunakan kembali.
Pekerjaan ini dekat sekali dengan pengguna karena masalah yang ditangani biasanya muncul langsung dalam aktivitas sehari-hari.
Kalau teman-teman pernah mendengar kalimat “coba restart dulu”, mungkin kalian sudah merasakan sedikit dunia IT Support.
N
Network Engineer
Network Engineer merancang dan merawat jaringan supaya data bisa berpindah dengan andal.
Komputer yang berdiri sendiri mungkin tetap bisa melakukan banyak hal. Tapi begitu kita ingin berkomunikasi dengan server, membuka layanan internal, atau terhubung dengan perangkat lain, jaringan mulai berperan.
Network Engineer memastikan jalur komunikasi itu tersedia dan bekerja sebagaimana mestinya.
Ketika koneksi putus, yang kita rasakan biasanya cuma “internet mati”.
Di belakang keluhan sederhana itu, bisa ada banyak perangkat dan konfigurasi jaringan yang perlu diperiksa.
P
Programmer
Programmer menulis, menguji, dan memperbaiki code untuk mengubah spesifikasi menjadi program yang bisa dijalankan.
Kalau System Analyst membantu menentukan apa yang perlu dibuat, Programmer mulai menerjemahkan kebutuhan tadi ke bentuk yang dapat dipahami komputer.
Tapi programming sendiri bukan sekadar mengetik code sampai aplikasinya bisa dibuka.
Ada proses membaca requirement, memikirkan logic, mencoba hasilnya, menemukan bug, lalu memperbaikinya lagi.
Mungkin itu juga alasan kenapa tombol “Run” sering kali baru menjadi awal dari masalah berikutnya.
S
Software Engineer
Software Engineer merancang struktur software secara lebih menyeluruh.
Fokusnya bukan hanya membuat satu fitur bekerja, tetapi juga memikirkan bagaimana bagian-bagian dalam sistem berhubungan dan tetap bisa dikembangkan ke depannya.
Dua program bisa sama-sama bekerja hari ini.
Tapi ketika fitur baru mulai ditambahkan terus-menerus, struktur yang dipakai sejak awal bisa menentukan apakah pengembangannya tetap mudah atau malah berubah menjadi masalah baru.
Jadi software yang “bisa jalan” belum tentu sama dengan software yang dirancang dengan baik.
Software Tester / QA
Software Tester atau Quality Assurance berusaha menemukan masalah sebelum pengguna menemukannya lebih dulu.
Mereka menguji software dan mencari bug untuk memastikan fungsi yang dibuat benar-benar bekerja sesuai kebutuhan.
Kalau Programmer biasanya mencoba membuat software berhasil, tester justru perlu berpikir sedikit berbeda.
“Apa yang terjadi kalau saya melakukan sesuatu yang nggak diperkirakan programmer?”
Cara berpikir seperti ini penting karena pengguna nyata nggak selalu mengikuti alur yang kita bayangkan.
Kadang menemukan cara untuk merusak aplikasi justru menjadi bagian dari membuat aplikasi yang lebih baik.
System Administrator
System Administrator menjaga server, jaringan, dan service agar tetap berjalan stabil dan aman.
Kalau sebuah organisasi bergantung pada server untuk bekerja setiap hari, seseorang harus memastikan server tersebut tetap tersedia.
Mereka menangani konfigurasi, maintenance, monitoring, dan berbagai pekerjaan lain yang berkaitan dengan keberlangsungan sistem.
System Administrator dan DevOps Engineer memang sama-sama bisa berurusan dengan server.
Bedanya, System Administrator lebih dekat dengan menjaga sistem yang ada supaya tetap berjalan, sementara DevOps Engineer banyak berfokus pada otomatisasi proses development dan deployment.
System Analyst
Sebelum programmer mulai menulis code, seseorang perlu memahami dulu masalah apa yang sebenarnya ingin diselesaikan.
Itulah salah satu pekerjaan System Analyst.
System Analyst mempelajari proses bisnis lalu menerjemahkannya menjadi technical specification yang nantinya dapat digunakan untuk membangun sistem.
Misalnya sebuah gudang masih mencatat stok dengan kertas.
Solusinya belum tentu sekadar “buat aplikasi stok”.
Kita perlu tahu siapa yang mencatat barang, kapan stok berubah, data apa yang harus disimpan, siapa yang boleh mengubahnya, dan laporan seperti apa yang diperlukan.
Baru setelah prosesnya dipahami, sistem yang tepat bisa mulai dirancang.
U
UI/UX Designer
UI/UX Designer merancang bagaimana sebuah sistem terlihat dan bagaimana rasanya ketika digunakan.
UI atau User Interface berkaitan dengan bagian yang berinteraksi langsung dengan pengguna, seperti tombol, menu, layout, dan tampilan halaman.
UX atau User Experience melihat pengalaman yang lebih luas.
Apakah pengguna tahu harus menekan tombol mana? Apakah prosesnya terlalu panjang? Apakah istilah yang digunakan membingungkan?
Sebuah aplikasi bisa memiliki semua fitur yang diminta dan tetap terasa sulit digunakan.
Kalau hal itu terjadi, masalahnya mungkin bukan karena fiturnya kurang. Bisa jadi kita belum cukup memahami orang yang akan menggunakannya.
W
Web Developer
Web Developer membangun dan merawat website menggunakan teknologi web seperti HTML, CSS, dan JavaScript.
Dalam sebuah proyek, Web Developer bisa mengubah rancangan interface menjadi halaman yang benar-benar bisa digunakan melalui browser.
Pekerjaannya juga bisa berhubungan dengan server, database, API, dan berbagai bagian lain tergantung kebutuhan sistem.
Jadi istilah Web Developer sendiri cukup luas.
Ada yang lebih banyak bekerja pada tampilan yang dilihat pengguna, ada juga yang banyak menangani proses di belakang layar.
Kesimpulan
Setelah melihat semua istilah tadi, mungkin mulai kelihatan kalau teknologi informasi itu jauh lebih luas daripada sekadar programming.
Ada orang yang memahami masalah sebelum sistem dibuat. Ada yang menulis code. Ada yang mencari bug. Ada yang menjaga server tetap hidup. Ada yang mengatur data, menjaga keamanan, merancang pengalaman pengguna, sampai memastikan semua orang dalam proyek bergerak ke arah yang sama.
Dan hampir nggak ada sistem nyata yang selesai hanya karena satu profesi bekerja sendirian.
Dalam sebuah aplikasi sederhana saja, System Analyst bisa mulai dengan memahami kebutuhan, UI/UX Designer memikirkan pengalaman pengguna, Programmer dan Web Developer membangunnya, Software Tester mencoba mencari kesalahan, lalu DevOps Engineer dan System Administrator membantu menjalankan sistem tersebut.
Pada akhirnya, End User yang benar-benar memakainya.
Menurut saya, ini bagian yang menarik dari belajar profesi TI. Kita jadi nggak cuma melihat teknologi dari benda atau software yang ada di depan mata, tetapi mulai melihat orang-orang di belakangnya.
Kalau ada satu profesi yang namanya baru pertama kali teman-teman dengar dari glosarium ini, mungkin itu justru tempat yang menarik untuk mulai menggali lebih jauh.
Siapa tahu selama ini kita merasa ingin bekerja di bidang teknologi, tapi sebenarnya belum tahu kalau pekerjaan yang cocok dengan kita ternyata punya nama.
